Ekskavasi Swarnabumi, Gali Jejak Peradaban Kuno di Sumatera

oleh
Stiker Ekskavasi Swarnabumi. Foto/ dokumentasi
Rakyatsumut.com – Pada Momen Hari Teater Dunia di 2019, Teater Rumah Mata menyelenggarakan Ekskavasi Swarnabumi#1 ( teater tiga Kota di Kotta Cinna) yaitu Teater Selembayung Pekanbaru, Ranah PAC Padang, Teater Rumah Mata Medan.
“Ekskavasi Swarnabumi merupakan gerakan kebudayaan dengan menggunakan strategi teater dengan melibatkan ekosistem lain,” kata ketua Teater Rumah Mata, Agus Soesilo dalam pres release diterima Rakyatsumut.com, Kamis (31/1/2019).
Dikatakan, Ekskavasi Swarnabumi juga menggali kembali jejak-jejak peradaban tua di Sumatera, terutama diwilayah pesisir timur Sumatera Utara yang banyak tersebar situs peradaban kuno, fokusnya kota kosmopolitan kuno di situs Kotta Cinna, Paya Pasir, Medan Marelan.
“Ekskavasi yang tidak hanya dalam bentuk pencatatan, pengarsipan, dan pendokumentasian saja, namun lebih kepada sebuah gerakan kebudayaan,” jelas Agus.
Kegiatan ini akan diselenggarakan pada 22 hingga 24 maret 2019 di situs Kotta Cinna Medan Marelan, dan akan melibatkan berbagai element baik itu akademisi, profesional, pelajar, mahasiswa, pegiat seni, budayawan, aktifis lingkungan dan masyarakat.
Adapun tema dari kegiatan ekskavasi swarnabumi ini ialah mengartikulasikan situs kotta cinna untuk masa depan peradaban, dengan mengangkat isu situs sebagai tempat pembelajaran mengenalkan peradaban kotta cinna, dan mengusung konsep dari situs bertransformasi ke dalam representasi, edukasi, wisata, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Agus menyebut, kegiatan ini menampilkan pertunjukan teater dari tiga kota di Pulau Sumatera yaitu, Teater Rumah Mata Medan yang akan menampilkan Reprodiksi Tanda karya Agus Susilo, Ranah Performing Arts Company Padang dengan aksi Sandiwara pekaba karya S. Metron Masdison, dan Lembaga Teater Selembayung Pekanbaru dengan karyanya berjudul Situs yang disutradarai Fedli Aziz.
Selain pertunjukan teater, Ekskavasi Swarnabumi juga akan megadakan diskusi tentang situs Kotta Cinna dan berbagai situs lainnya di Sumatera, workshop metode penciptaan, wisata kunang-kunang, wisata tanam mangrove, wisata jaring sampah, wisata lubuk kuali, wisata napak tilas Kotta Cinna, wisata ekskavasi permukaan artefak, wisata kuliner khas situs, camping di atas situs, dan pameran ekonomi kreatif.
Seluruh rangkaian kegiatan Ekskavasi Swarnabumi, ujar Agus, bertujuan untuk mempresentasikan situs kotta cinna kepada masyarakat dunia, menjadikan situs sebagai media edukasi, serta diharapkan mampu menciptakan destinasi wisata ekologi, arkeologi, sejarah, kuliner, dan crafting sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar.
“Dengan adanya kegiatan tersebut,¬† ekosistem di wilayah pesisir dapat dilestarikan dengan baik sehingga aset-aset yang terdapat di situs kotta cinna mampu terjaga untuk generasi selanjutnya,” katanya.
Laporan: Oktaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *