Bungker di Bukit Poncan, Jejak Sejarah yang Butuh ‘Sentuhan’ Pelestarian

oleh
Kondisi Bungker di Bukit pulau Poncan Gadang, Kota Sibolga, Sumatera Utara yang membutuhkan sentuhan pemugaran dan pelestarian.

Rakyatsumut.com, Matahari belum ‘menua’ dari ufuk Timur. Angin berhembus rendah. Ombak berdebur ringan di pantai Kota Sibolga, Sumatera Utara, Kamis (2/5/2019) pagi.

Komunitas Menjaga Pantai Barat (Komantab) ditemani Manajer Poncan Marine Resort Felix, mengawali perjalanan menumpangi kapal menuju Pulau Poncan Gadang berjarak 25 menit perjalanan.

Tak lama kapal mendekat ke dermaga Pulau Poncan Gadang. Hamparan pantai berpasir putih di debur ombak menyambut kapal yang berlabuh perlahan. Kami menyusuri dermaga menuju Restoran dengan berbagai ornamen dan interior klasik.

Poncan, pada tahun-tahun terakhir memang mengalami penurunan pengunjung yang menginap. Tak terlihat pengunjung pagi itu. Hanya beberapa karyawan dan pelajar SMK yang memilih menjalankan praktek lapangan di Resort yang sudah beroperasi sejak 1997 silam ini.

Rangkaian persiapan kami mulai; mengenakan sepatu pendakian, tas, topi dan beberapa perlengkapan lainnya. Misi kali ini menuju Bungker yang berada di puncak bukit Poncan. Sejumlah literasi pemberitaan menyebut bungker yang berada di ketinggian 116 meter diatas permukaan laut (mdpl) ini merupakan peninggalan penjajahan Jepang.

“Informasinya dari orang-orang tua, Bungker itu dahulunya dibangun Jepang. Masyarakat pribumi yang menjadi pekerjanya. Gak terbayang bagaimana dulu mereka membawa material bahan bangunan untuk membangun bungker itu,” tutur Felix.

Tak lama bersiap. Perjalanan kami awali memasuki pintu rimba yang sudah mulai tertutup rumput. Dengan parang, rumput yang menghalang jalan ditebas dan disingkirkan.

Jalur pembuka diawali hutan bambu dengan jalan sedikit mendaki. Menyusul jalan tikus berkontur batuan dan tanah di tengah hutan dengan kecuraman bervariasi 40 hingga 50 derajat. Sudah disediakan tali tambang sebagai pegangan saat mendaki.

Foto drone sejumlah pengunjung berdiri melingkar di tengah Bungker di Bukit Poncan Gadang, Kota Sibolga, Sumatera Utara. Foto Rakyatsumut.com/ Oktaf

“Sudah kita pasang tali memang, jadi memudahkan pendakian, talinya sekitar 50 meter,” kata Felix.

Hutan hujan Pulau Poncan Gadang terlihat masih cukup asri. Pohon masih rimbun. Timbunan daun cukup tebal di sepanjang jalur menuju Bungker mengindikasikan kontur tanah masih terjaga dengan baik. Sementara, masih ditemukan Kantung Semar di beberapa titik hutan.

Perjalanan akhirnya tiba di Bungker pertama. Bungker ini tertutup rumput tebal. Wajar saja, objek sejarah ini jarang dikunjungi dan belum mendapat sentuhan pemugaran.

Di Bungker pertama ini terdapat ruang ke bawah tanah dengan 7 anak tangga. Di ruang dasar, gelap menyelimuti. Air menggenang di lantai ruangan setinggi 15 centimeter. Sementara di bagian atas, terlihat anak-anak tangga lainnya. Sayang, rumput tebal menghalangi upaya mengetahui arah anak tangga itu.

Kondisi Bungker di Bukit pulau Poncan Gadang, Kota Sibolga, Sumatera Utara yang membutuhkan sentuhan pemugaran dan pelestarian. Foto Rakyatsumut.com/ Oktaf

Bungker kedua berjarak sekitar 15 hingga 20 meter ke arah Barat dari bungker pertama. Bungker ini terlihat lebih terbuka. Berbentuk melingkar. Di tengah bungker, terdapat lagi lingkaran kecil berdiameter 2 meter sedalam setengah meter. Terdapat juga ruangan ke bawah tanah dengan menuruni 7 anak tangga. Air juga menggenang di dalam ruangan bawah tanah. Kelelawar memanfaatkan ruang bawah tanah ini sebagai tempat beristirahat.

Sementara di bagian atas Bungker tepatnya di dinding bagian dalam terdapat tiga lubang kecil berbentuk petak seluas 50 centimeter persegi. Menyusul, terdapat juga anak tangga menuju bagian atas bungker. Rumput yang awalnya menutupi sebagian bungker akhirnya dibersihkan. Bentuk bungker bagian atas akhirnya terlihat lebih jelas.

“Dulu waktu kami kemari sempat pasang tiang dan kami ikat bendera Indonesia. Ya sebagai penanda saja, Bungker ini memang jarang didatangi, cuma beberapa kali saja,” kata Felix.

Seorang pengunjung saat membersihkan rumput yang menutupi anak tangga ke ruangan bawah tanah Bungker di Bukit pulau Poncan Gadang, Kota Sibolga, Sumatera Utara. Foto Rakyatsumut.com/ Oktaf

Felix memprediksi, Bungker tersebut tidak hanya di dua titik tersebut. Ia meyakini jika dilakukan penelusuran lebih jauh akan ditemukan bungker-bungker lainnya. Ia juga menduga, ada terowongan yang menghubungkan satu bungker dengan bungker lainnya.

“Dugaan tentu banyak ya, semoga ada penelusuran lebih jauh untuk mengungkapnya,” harap Felix.

Panorama Keindahan Dari Bungker Poncan

Dari Bungker ini, panorama keindahan alam tersaji dengan terbuka. Lokasi ini juga menarik sebagai spot foto teluk Tapian Nauli di arah Utara.

Terlihat areal Poncan Marine Resort sepanjang bibir pantai Pulau Poncan Gadang. Barisan atap resort-resort klasik bermaterial kayu itu terlihat artistik dari ketinggian. Garis-garis ombak berkejaran di tepian pulau-pulau. Keindahan terlihat memukau.

Panorama teluk Tapian Nauli yang cantik terlihat dari Bungker Jepang di Bukit Poncan Gadang, Kota Sibolga, Sumatera Utara, Kamis (2/5/2019). Bungker ini dikunjungi tim Komunitas Menjaga Pantai Barat (Komantab), Manajer Poncan Marine Resort, Rakyatsumut.com dan HPI Tapanuli Tengah. Bungker Poncan merupakan peninggalan sejarah penjajahan Jepang di Pantai Barat Sumatera Utara. Diprediksi terdapat lebih dari 2 bungker berbentuk melingkar di bukit ini. Bungker-bungker tersebut tidak terawat dan tertutupi rumput lebat dan membutuhkan pemugaran. Foto Rakyatsumut.com/ Oktaf

Sayangnya, di sisi Barat, rumput menjulang tinggi dan menghalangi pemandangan dan belum memungkinkan untuk dijadikan spot berburu sunset.

“Sangat indah memang dari sini, karena itu memang cukup menarik jika ingin dijadikan destinasi wisata sejarah sekaligus wisata keindahan,” kata Kordinator Komunitas Menjaga Pantai Barat (Komantab) Maecenas Donnya.

Berpotensi Wisata, Sentuhan Pemugaran Harus Dilakukan

Maecenas yang akrab disapa Doni menyebut, Bungker Poncan memiliki potensi yang layak untuk dijual kepada wisatawan. Meski, menurut dia, pembenahan lokasi, baik akses jalan, pemugaran bungker dan penambahan sarana pelengkap lainnya menjadi sebuah keniscayaan.

Misalnya, jika ingin menyasar para pecinta alam yang hobi pendakian. Jalur treking menuju Bungker yang memiliki kecuraman yang cukup menantang bagi para pendaki harus lebih dibenahi.

“Bisa juga dikembangkan camping ground jika ditemukan areal yang datar,” ujar Doni.

Kemudian bagi para pecinta sejarah. Bungker Poncan dipastikan menyimpan jejak-jejak cerita masa penjajahan yang penting bagi ilmu pengetahuan. Mengumpulkan literasi tentang Bungker itu harus dilakukan untuk menyajikan kisah tentang Bungker tersebut.

“Wisatawan datang ke satu lokasi tentu ingin tahu cerita tentang lokasi itu, nah literasi tentang Bungker disajikan di lokasi, agar pengunjung tahu, ini tahun berapa dibangun, apa jejak sejarahnya,” katanya.

Pemugaran menurut dia memang harus dilakukan jika ingin menjadikan Bungker Jepang sebagai destinasi wisata baru. Selain pembersihan, beberapa sarana lain penting diadakan, misalnya papan himbauan soal kebersihan dan kehati-hatian, penunjuk arah serta sarana kebersihan.

“Soal kebersihan, soal sampah menjadi suatu yang sangat penting saat ini di semua pengembangan pariwisata, khususnya sampah plastik, makanya tong sampah dan manajemen pengelolaan sampah harus ada ke depan,” katanya.

Perlu Kordinasi Lintas Sektoral ‘Menyentuh’ Bungker Poncan

Manajer Poncan Marine Resort Felix mengaku, status lahan dimana Bungker Poncan berada tidak masuk dalam pengelolaan pihaknya.

“Sepertinya lahan milik Pemko, atau belum tahu di lahan siapa,” katanya.

Kendati Felix mengatakan pihaknya berkeinginan mengembangkan Bungker tersebut sebagai objek wisata di Pulau Poncan.

“Menarik, bisa jadi objek pelengkap bagi pengunjung yang datang ke Poncan Marine Resort,” ujarnya.

Dia juga mengaku siap berkordinasi dengan Pemko dan bermitra dengan lintas sektoral terkait pengembangannya.

“Termasuk dengan teman-teman komunitas menjaga pantai barat, kita tentu tertarik mengembangkannya dan menawarkannya untuk dikunjungi wisatawan Poncan,” kata dia.

Sibolga, Kota Seribu Benteng

Keberadaan Bungker di Pulau Poncan memang tidak mengejutkan. Di banyak lokasi, terdapat banyak benteng dan bungker peninggalan Jepang saat berhasil mendarat dan menduduki pantai Barat atau Kota Sibolga di tahun 1940 an.

Benteng dan Bungker Jepang yang masih dapat dilihat diantaranya terdapat di Bukit Ketapang yang berjumlah belasan, Benteng di gang Kaje-Kaje, Bungker di perbukitan Pintu Angin, Bungker di antara rumah warga di Panomboman, Bungker di rumah warga di komplek perumahan bea cukai dan Goa Jepang di Tangga Seratus.

Terkhusus di Ketapang, Benteng-benteng Jepang banyak dijadikan sebagai pondasi rumah warga karena memiliki daya tahan yang tinggi.

Meski terdapat juga Benteng yang sudah dipugar yakni di Bukit Ketapang: ada 2 unit. Pemugaran dilakukan pemerintah setempat dengan membangun gajebo di atasnya. Juga telah dibangun tangga dan jalan setapak dari beton yang menyusuri bukit ketapang menuju Benteng. Jalan tersebut tersebut juga telah diberi nama Gang Benteng.

Goa di Tangga Seratus juga telah disentuh pembangunan dengan menjadikannya taman bermain bagi anak-anak. Kios menjajakan Burger juga telah dibangun bagi pengunjung yang ingin menghabiskan waktu duduk-duduk sembari menikmati kesibukan jalan Sisingamangaraja. Meski hingga kini mulut Goa masih di Jerjak besi dan tak diperbolehkan masuk ke dalam.

Upaya melestarikan dan menjaga Benteng dan Bungker di Kota Sibolga termasuk di Pulau Poncan memang masih harus terus dilakukan. Sentuhan yang lebih arif dan bijaksana dibutuhkan agar jejak-jejak sejarah di Kota Sibolga tak tergerus dan hilang. Tidak saja pemerintah, tapi seluruh elemen baik lembaga, swasta, komunitas dan seluruh masyarakat.

Laporan: Oktaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *