Goa Sijurang Objek Wisata Sejarah di Desa Suga Suga

oleh
Goa Sijurang Objek Wisata Sejarah di Desa Suga Suga.

Rakyatsumut.com – Goa Sijurang di desa Suga-suga Hutagodang, kecamatan Pasaribu Tobing, kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sangat potensial dikembangkan menjadi objek wisata sejarah.

Goa alam ini berada dikawasan perbukitan sinar dolok Siordang dengan ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan laut, dikelilingi pepohonan besar dan mata air dari bebatuan yang mengalir jernih, demikian juga suara binatang seperti burung dan orang hutan yang saling bersahutan akan membuat pikiran merasa nyaman dan tenang sebagai mana berada di alam bebas.

“Destinasi objek wisata di Tapteng kini bukan hanya pantai dan air terjun, namun ada juga goa alam di desa Suga suga Hutagodang, sebagai objek wisata baru yang potensial dikembangkan menjadi wisata sejarah,” Ujar kepala Desa Sugasuga Hutagodang Antonius Habeahan kepada Rakyatsumut, Minggu (30/6/2019).

Dia menjelaskan, Goa Sijurung pernah digunakan oleh pahlwan Nasional Kapten Bungsu Pasaribu nersama dengan pasukannya sebagai tempat mengintai maupun bersembumyi dari kejaran pasukan tentara Belanda pada saat perang, untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dan didalam Goa tersebut Kapten Bongsu Pasaribu bersama pasukannya mengadakan rapat untuk mengatur strategi menyerang tentara Belanda.

“Dulu didalam Goa ini ada meja dan kursi untuk rapat mengatur strategi menyerang musuh, ada juga periuk dari tanah serta ulakan cabe untuk memasak, dan dari Goa ini Kapten Bongsu Pasaribu nersama pasukannya bergrilya ke Barus menelusuri jalan setapak,” jelasnya.

katanya, Goa Sijurung ada sebanyak tiga petak, jaraknya sekitar 400 meter, dari lokasi terlihat indahnya hamparan persawahan yang luas, apalagi disaat musim tanaman padi sedang menguning.

“Karena Goa ini potensial untuk dikembangkan menjadi objek wisata sejarah, maka rencananya pemerintah desa Sugasuga Hutagodang akan memamfaatkan Dana Desa tahun anggaran 2020 untuk membuka akses jalan kelokasi Objek Wisata bersejarah tersebut,” tegas Antonius Habeahan.

Laporan: Mamondang Simanungkalit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *