Begini Tanggapan PT Tobasurimi Terkait Izin Yang Disorot Pemkab Tapteng

oleh
GM Operasional PT Tobasurimi, Tarkun. Foto Rakyatsumut.com/ oktaf

Rakyatsumut.com, PT Tobasurimi Nusantara dan PT Horizon di kawasan industri perikanan Pondok Batu, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah mendapat sorotan dari Dinas Perizinan setempat.

Sejumlah izin, misalnya Izin Lingkungan yang disebut-sebut belum dimiliki kedua perusahaan pengolah ikan ini.

General Manager Operasional PT Tobasurimi Nusantara, Tarkun ditemui sejumlah awak media, Jumat (4/10/2019) mengatakan pihaknya akan kooperatif soal perizinan yang disyaratkan pemerintah setempat.

Tarkun mengatakan, sejumlah izin itu sebenarnya sedang proses pengurusan, dimana berkas-berkas sudah disiapkan.

“Memang menurut UKL dan UPL dulunya pabrik tepung ikan, tapi kan sekarang ada Fish Meal dan Tuna Loin, yang lama ada, inilah mau direvisi. Nah izin itupun sedang kami urus di Perizinan, kalau Izin Lingkungan sebenarnya sudah kami urus secara online di kantor perizinan Terpadu di Medan,” ungkap Tarkun.

Terkait izin penanaman modal Tarkun juga mengungkap hal serupa. Pihaknya sedang memproses berkas-berkas yang diminta.

“Izin Modal kan di update per semester dan tahun ini sedang dikerjakan, kita akan kooperatif,” katanya.

Terkait aroma bau yang berasal dari produksi pabrik, Tarkun tak membantah. Kendati ia menyebut perusahaannya bukan satu-satunya penghasil bau itu.

“Karena semua limbahnya untuk tepung ikan,” kata dia.

Ia menyebut soal limbah asap, proses filterisasi selalu dilakukan sebelum dibuang ke udara.

“Ada alat untuk memfilter asap yang mengandung partikel berat jangan terbang, jadi yang terbang itu asap saja, partikel berat sudah jatuh, tapi alat ini tak bisa menghilangkan seratus persen bau,” kata dia.

“Nah kalau soal limbah cair, kita ini kan di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara Sibolga, jadi kan limbah cair kami dikumpulkan disana dan kami bayarnya ke PPNS,” timpalnya.

Tarkun mengatakan sedikitnya 300 an orang pekerja harian terpaksa menganggur akibat berhentinya operasional pabrik. Selain faktor sorotan tentang izin itu, juga karena pasokan ikan yang semakin minim.

“Sudah hampir sebulan tak kerja, banyak faktor termasuk terhalangnya pasokan ikan dari Aceh,” kata dia.

Sementara sebanyak 60 an karyawan tetap juga akhirnya tak bekerja karena tak berjalannya produksi.

“Mungkin saja ada yang sudah pindah ke perusahaan lain,” ungkap Tarkun.

Tarkun menyebut produksi Tuna Loin di perusahaannya untuk kebutuhan ekspor ke Eropa. Sebanyak 15 ton per hari bahan baku, diproduksi setiap hari di Tobasurimi dan didistribusikan ke Kota Medan.

“Daging ikannya mentah, dikirim ke Medan dan dilakukan pengalengan lalu di ekspor ke Eropa,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk produksi Fishmeal atau tepung ikan, Tobasurimi memproduksi untuk kebutuhan lokal. Sebanyak 5 ton bahan baku diproduksi setiap hari.

“Jadi kita juga menghasilkan devisa buat negara, dan kita taat bayar pajak,” kata dia.

Tarkun mengatakan pihaknya berharap persoalan ini dapat segera selesai dan perusahaannya dapat beroperasi kembali.

“Kalau bisalah secepatnya bisa diselesaikan, agar kami bisa kerja. Banyak pekerja dari Poriaha, Tukka, tempat-tempat jauh, kasihan,” katanya.

Tarkun mengaku sejauh ini mereka ikut berkontribusi dalam berbagai agenda sosial kemasyarakatan di lingkungan perusahaan mereka.

“Sepanjang saya disini setahun, memang belum ada. Tapi sumbangan-sumbangan banyak, ada natal, mesjid, kompensasi air,” kata dia.

Sementara soal program CSR, Tarkun memang mengaku sepanjang ia menjabat sebagai General Manager, belum pernah dilakukan.

Kendati ia menyebut pihaknya akan berkomitmen menjalankan aturan terkait CSR sebagaimana yang disyaratkan.

“Kedepan akan kita lakukan, karena itu kita berharap persoalan ini bisa diselesaikan secepatnya dan karyawan kami bisa bekerja kembali,” harapnya.

Sebelumnya Dinas Perizinan Tapteng mengungkap permasalahan perizinan di dua perusahaan, salah satunya Tobasurimi.

Kadis Perizinan Erwin Marpaung menegaskan meminta perusahaan itu tak beroperasi sementara.

Atas kasus ini sejumlah petugas polisi dari Polda Sumut telah mendatangi perusahaan ini untuk mengambil sejumlah barang bukti, yakni produk air dan hasil jadi pengolahan.

Laporan: Oktaf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *