Bupati Tapteng dan Ketua TP PKK Tapteng Hadiri Kegiatan Sehari Belajar di Luar Kelas

oleh

Rakyatsumut.com – Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tapanuli Tengah, Ny. Citra Bakhtiar Ahmad Sibarani menghadiri kegiatan sehari belajar di luar kelas yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PP dan PA) di MIN 7 Sibuluan, Kelurahan Sibuluan Nalambok Kecamatan Sarudik, Kamis (07/11/2019). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Sekolah Ramah Anak (SRA) di Tapteng.

Bupati Tapteng, Bakhtiar Ahmad Sibarani menyampaikan apresiasi kepada MIN 7 Sibuluan, bahwa kegiatan sehari belajar di luar kelas ini diikuti 960 orang siswa/siswi di MIN 7 Sibuluan, dan itu menunjukkan besarnya minat para orangtua untuk menyekolahkan anaknya di MIN 7 Sibuluan.

Bupati Tapteng juga mengatakan, kegiatan sehari belajar di luar kelas ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pembelajaran yang lebih menyenangkan.

“Kepada kita semua, tanggung jawab terhadap anak didik bukan hanya berada di pundak guru dan kepala sekolah, melainkan tanggung jawab orangtua sangat dibutuhkan. Bukan hanya Ilmu pengetahuan yang menjadi cita-cita pembangunan pendidikan kita, namun hati dan merubah pola pikir atau mindset anak didik ke arah yang lebih positif yang harus kita bangun mulai hari ini,” katanya.

Ia mengingatkan para anak didik termasuk para orang tua tentang bahaya Napza, yaitu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, termasuk bahaya yang ditimbulkan menghirup Lem Kambing.

“Sekarang anak-anak ada yang terkontaminasi dengan menyalahgunakan Lem Kambing. Beberapa saat yang lalu, kami telah mengedarkan Surat Edaran Bupati tentang pelarangan bagi penjual Lem Kambing di luar kegunaannya sebagaimana mestinya, namun kurang diindahkan. Untuk itu, Saya akan intruksikan Camat, Lurah, dan Kepala Desa seluruhnya agar periksa siapa-siapa yang menjual Lem Kambing agar yang bersangkutan dapat mengindahkan hal itu,” tuturnya.

“Pesan saya kepada anak-anak sekalian, gapailah cita-citamu, kekayaan bukan jaminan agar engkau berhasil di masa depan, namun yang menjadi jaminan adalah keinginanmu untuk merubah nasib untuk menjadi baik ke depan,” pesannya.

Diketahui, sepertiga jumlah penduduk Indonesia atau  kurang lebih 79,6 juta orang adalah anak berusia di bawah 18 tahun. dua pertiga jumlah anak yang berada di Indonesia atau sekitar 53 juta adalah anak usia sekolah. Mereka harus dipastikan tetap belajar di Sekolah/Madrasah/setara minimal 12 tahun sampai menyelesaikan Pendidikan Dasar.

Saat ini, masih banyak hal yang membahayakan anak di Satuan Pendidikan, misalnya makanan yang tidak sehat, sarana prasarana yang tidak ramah anak, asap rokok, napza, bencana, kekerasan dengan berbagai bentuk, informasi tidak layak seperti pornografi, kekerasan, SARA, radikalisme, intoleran, dan lain sebagainya.

“Diperlukan satuan pendidikan yang bersih, aman, indah, sehat, asri, dan nyaman untuk anak dan warga, melalui Sekolah Ramah Anak (SRA). Proses pembelajaran yang menyenangkan menjadi salah satu ciri dalam melaksanakan Sekolah Ramah Anak. Salah satu bentuk kegiatan yang mendukung proses pembelajaran SRA adalah belajar di luar kelas.

“Poin penting dari kegiatan ini, yaitu peningkatan perhatian dan koordinasi di antara para Orangtua, Pemerintah, Tokoh Masyarakat, dan Dunia Usaha dalam menjaga anak-anak kita, yang dilakukan secara rutin, berkesinambungan, dan berkelanjutan, karena anak adalah investasi kita sebagai modal pembangunan dimasa yang akan datang,” jelasnya.

Laporan: Rommy/ Kominfo Tapteng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *