La Villa De Bordeaux Gempur Tapian Nauli

oleh
Rakyatsumut.com – Sejarah perebutan kekuasaan yang terjadi di Tapian Nauli turut pula tercatat sebelum Perancis masuk, tahun 1779 Jacob Van Heems didatangkan Belanda sebagai Klerk.
15 Agustus 1781, kapal perang Inggris pimpinan Sir Henry Bothan tiba di Pantai Barat Sumatera. Artinya ada kekuatan baru yang lebih dahsyat. Dan merekapun akhirnya dapat menguasai pos-pos Belanda yang tersisa. Inggris melebarkan sayap kekuasaan. Dalam sejarahnya, Inggris di Natal hanya dapat dikalahkan oleh kekuatan Perancis lewat adu senjata via armada kapal perang.
Peristiwa mengenaskan terjadi sebagai akibat kehadiran pasukan penggempur Perancis, ketika pertama sekali merapatnya kapal perampok La Villa De Bourdeaux, tahun 1793 bertepatan bulan Desember.
Pemimpinnya Le Mesme dan Le Gerde, duet bengis bukan saja ditakuti oleh Inggris dan Belanda, tetapi juga raja-raja di Tapaian Nauli. La Villa de Bourdeaux diperlengkapi 48 meriam, lalu bersimaharaja lela merampok harta VOC, uang kontan pedagang Cina dan harta benda orang-orang Kristen di Padang (Bunga Rampai Tapian Nauli ).
Pos-pos Inggris di Natal dan Poncan Ketek ikut digerebek. Kapal yang membawa “monster-monster” mengerikan itu baru hengkang pada 23 Desember 1793.
Tak banyak sumber yang mengetahui kehadiran kapal. Begitu misterius. Apakah mereka berkeinginan hendak ikut menjajah atau sekedar merampok atau mengemban perang syaraf di Eropa.
Pada masa itu Perancis sedang berusaha menancapkan kuku-kukunya diberbagai belahan bumi di bawah kekuasaan Kaisar Napoleon Bonaparte. Inggris yang tercatat sebagai musuh bebuyutan Perancis terbawa imbasnya kemana-mana.
Kehadiran kapal Perancis ini walaupun sebentar saja telah mampu menghadirkan syndrom ketakutan berkepanjangan termaduk kepada pribumi setempat.
Issu jelek yang ditunjukkan kapal-kapal Perancis begitu mengerikan, perampok, garong, bajak laut, pembunuhan berdarah dingin, penebar perang dan lain sebagainya. Maka atribut Perancis pun terpahat dalam sanubari orang-orang Tapian Nauli sebagai manusia-manusia dingin tak berprikemanusiaan.
Pun sepeninggal Le Meme, serangan corsairs lainnya tidak berhenti. “Di tahun yang sama, tiga corsairs dari Mauritius sudah menyerang tiga pos Inggris di Bengkulu dan Natal. Pada 1794, Natal dan Tapanuli sempat diduduki lagi oleh para corsairs,” tulis Anthony Reid dalam The French in Sumatra and the Malay World, 1760-1890.
Petualangan Le Meme berakhir. Dia tertangkap dan meninggal pada 30 Maret 1805 di kapal Waltherstow, yang tengah membawanya ke Inggris untuk diadili. Ketika Mauritius berhasil dikuasai Inggris pada 1810, aktivitas para corsairs terhenti.
Padang berada di bawah pemerintahan Inggris ketika perang Napoleon berkobar di Eropa pada 1803, sebelum akhirnya dikembalikan lagi ke Belanda melalui Konvensi London pada tahun 1814.
Penulis: Syafriwal Marbun (Budayawan Sibolga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *